KABUPATEN BANDUNG – Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Demokrat, H. Saeful Bachri, S.H., M.A.P., melakukan langkah nyata dalam mengawal transparansi pemerintahan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Dalam agenda pengawasan penyelenggaraan pemerintahan tahun anggaran 2026 yang digelar di MA MTS Al-Ikhsan Baros, Kecamatan Arjasari, Sabtu (11/4/2026), pria yang akrab disapa Kang Epul ini meninjau langsung implementasi program ASRI (Anggota Keluarga Sehat Pekarangan Lestari).
ASRI solusi Konkret Lawan Stunting dari Pekarangan Program besutan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jawa Barat ini bukan sekadar penghijauan lahan, melainkan strategi jitu menekan angka stunting melalui pemberdayaan Kelompok Wanita Tani (KWT).
Dalam kunjungannya ke kelompok Tani Citra Lestari Nusantara, Saeful Bachri mengatakan, ketahanan pangan tidak boleh sekedar slogan di atas kertas. Targetnya harus konkret, yakni pemenuhan gizi keluarga secara mandiri.
”Kami ingin memastikan asupan protein bagi keluarga terdampak stunting tersedia setiap hari di meja makan mereka, bukan hanya seremonial setahun sekali. Hasil kebun dan perternakan harus dapat di rasakan secara berkelanjutan,” tegas legislator asal Dapil Jabar 2 tersebut.
Mengajak Gen Z: “Dunia Digital Dikuasai, Pangan Harus Digenggam”
Di hadapan warga dan tokoh masyarakat, Saeful Bachri juga membakar semangat generasi muda (Gen Z) untuk melihat pertanian sebagai sektor bisnis yang bergengsi.
Saeful menekankan, bahwa citra petani konvensional harus berubah menjadi petani modern berbasis teknologi.
”Urusan perut adalah kepastian, karena itu bisnis pangan sangat menjanjikan. Saya ingin pemuda kita tidak ragu menjadi petani milenial dan Gen-Z yang menguasai teknologi sekaligus memegang kendali atas suplai pangan kita sendiri,” katanya.
Strategi Hilirisasi:
Menjadikan Kopi dan Kakao Tuan Rumah di Negeri Sendiri tak hanya bicara level rumah tangga, Saeful Bachri menyoroti isu besar terkait Hilirisasi Industri.
Kang Epul, menyayangkan adanya ketimpangan di mana Jawa Barat memiliki industri cokelat terbesar se-Asia Pasifik, namun bahan bakunya masih banyak didatangkan dari luar. Kabupaten Bandung sendiri memiliki kekayaan luar biasa dengan 8 komoditas unggulan: Padi, Bawang Merah, Cabai, Teh, Jagung, Kopi, Cengkeh, Tebu dan yang lainnya.
Dari nama-nama Komoditas tersebut, Kopi dan Kakao (Cokelat) diposisikan sebagai “bintang utama”. Saeful melihat potensi besar di wilayah dengan ketinggian 200–700 MDPL seperti Arjasari untuk pengembangan Kakao sebagai solusi ekonomi sekaligus konservasi lahan.
“Pemerintah harus bertindak sebagai jembatan agar terjadi link and match. Industri besar wajib menyerap hasil tani lokal. Kita jangan hanya menjual biji mentah namun nilai tambah dari pengolahan harus dinikmati oleh petani kita di Kabupaten Bandung,” pungkasnya.**


