Komoditas kakao atau cokelat kini mulai jarang mendapat perhatian di Jawa Barat. Padahal, para petani sebelumnya tidak banyak menyadari bahwa ketika tanaman kakao sudah berproduksi, hasilnya sangat dibutuhkan, tidak hanya oleh industri makanan dan minuman dalam negeri, tetapi juga memiliki pasar hingga ke tingkat internasional.
Minat terhadap kakao pun tidak terbatas pada kalangan usia dewasa seperti halnya kopi. Produk berbahan dasar kakao justru memiliki cakupan konsumen yang jauh lebih luas, mulai dari balita hingga orang dewasa di berbagai belahan dunia. Hal ini menjadikan kakao sebagai komoditas yang dinilai memiliki prospek lebih menjanjikan dibandingkan kopi.
Melihat potensi tersebut, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Demokrat, H. Saeful Bachri, S.H., M.A.P., menunjukkan komitmennya untuk mendorong pengembangan tanaman kakao di Jawa Barat, khususnya di wilayah Kabupaten Bandung.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah mengajak para petani untuk kembali menggiatkan budidaya kakao. Hal ini disampaikan Saeful Bachri, yang juga merupakan Anggota Komisi II DPRD Jawa Barat, saat ditemui pada kegiatan Gerakan Tanam Kakao dan Kelapa Serentak (Gertakk) di Pondok Pesantren Al Muchlis, Desa Nagrak, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung yang dihadiri langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Indonesia Zulkifli Hasan dan Bupati Bandung Dadang Supriatna, Kamis (22/01/2026).

saat penanaman bibit kakao serentak di Ponpes Al Muchlis Nagrak Cangkuang Kabupaten Bandung. (22/1/2026)
Menurut Saeful Bachri, permintaan kakao di pasar global saat ini tergolong sangat tinggi. Selain itu, kondisi iklim di Kabupaten Bandung dinilai cukup ideal untuk pengembangan perkebunan kakao secara berkelanjutan.
“Kakao memiliki nilai ekonomi yang cukup besar. Tidak menutup kemungkinan Kabupaten Bandung dapat menjadi salah satu sentra pengembangan kakao. Jika sebelumnya kopi menjadi komoditas unggulan, maka kakao dapat menjadi alternatif dengan potensi ekonomi yang tak kalah menjanjikan,” ungkapnya.
Tingginya kebutuhan pasar dunia terhadap kakao dinilai sebagai peluang strategis bagi daerah penghasil bahan baku cokelat. Saeful Bachri juga menyoroti fakta bahwa hingga kini, bahan baku untuk pabrik cokelat terbesar di kawasan Asia Pasifik masih didatangkan dari luar Jawa Barat, meskipun pabrik tersebut berlokasi di Kabupaten Bandung.
Selain bernilai ekonomis tinggi, tanaman kakao juga memiliki fungsi konservasi lingkungan. Dengan karakteristik yang mampu tumbuh optimal di lahan dengan ketinggian di bawah 1.000 meter, atau sekitar 700 meter di atas permukaan laut, kakao dinilai cocok dikembangkan di berbagai wilayah Jawa Barat.

Saeful Bachri berharap, melalui gerakan tanam kakao serentak ini, kakao dapat kembali bangkit sebagai salah satu komoditas unggulan Kabupaten Bandung seperti pada masa lalu, sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan.
“Tanaman kakao sangat mendukung aspek konservasi dan ekonomi karena dapat tumbuh di lahan dengan ketinggian di bawah 1.000 meter,” jelasnya.
Ia menambahkan, pihaknya ingin menjadikan kakao sebagai primadona baru selain kopi. Pada tahun 2026, ditargetkan sekitar 80.000 hingga 100.000 pohon kakao akan ditanam di wilayah Kabupaten Bandung dan beberapa daerah lain di Jawa Barat.

